Kalimantan, 28 Januari 2026 —
Hutan hujan tropis Kalimantan kembali menjadi sorotan setelah disebut sebagai salah satu hutan tertua di dunia dengan usia mencapai 130–140 juta tahun, jauh lebih tua dibandingkan Hutan Amazon yang diperkirakan berusia sekitar 55 juta tahun. Fakta ini menegaskan posisi Hutan Kalimantan sebagai surga terakhir keanekaragaman hayati di Asia.
Hutan Kalimantan membentang melintasi tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, dengan luas mencapai puluhan juta hektare. Kawasan ini menjadi rumah bagi sekitar 15 ribu jenis tumbuhan, dengan lebih dari 6 ribu spesies endemik yang tidak ditemukan di wilayah lain di dunia.
Keanekaragaman fauna di hutan ini juga sangat tinggi. Tercatat sekitar 222 spesies mamalia, dengan 44 spesies endemik, serta 420 jenis burung, di mana 37 di antaranya merupakan spesies endemik. Selain itu, ratusan spesies reptil, amfibi, dan ikan hidup di sungai-sungai khas Kalimantan.
Secara ekologis, Hutan Kalimantan memiliki struktur berlapis yang kompleks, mulai dari pohon-pohon raksasa setinggi hingga 70 meter, kanopi yang menjadi pusat aktivitas satwa, lapisan understory yang dipenuhi tumbuhan muda, hingga lantai hutan yang kaya organisme pengurai. Struktur ini menciptakan ribuan ceruk ekologis yang memungkinkan berbagai spesies hidup berdampingan.
Sejumlah satwa ikonik menjadikan hutan ini sebagai habitat utama, seperti orang utan, bekantan, rangkong gading, macan dahan, dan gajah Kalimantan. Orang utan dan rangkong berperan penting sebagai penyebar biji alami, sementara gajah Kalimantan dikenal sebagai insinyur ekosistem yang membantu menjaga keseimbangan hutan.
Namun demikian, keberadaan Hutan Kalimantan menghadapi berbagai ancaman serius, mulai dari fragmentasi hutan, alih fungsi lahan, hingga konflik antara satwa dan manusia. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kelangsungan spesies endemik.
Selain fauna, flora unik seperti bunga Rafflesia, bunga tunggal terbesar di dunia, juga hidup di hutan Kalimantan. Keberadaan flora dan fauna tersebut menjadi indikator penting kesehatan ekosistem hutan hujan tropis.
Para pemerhati lingkungan menekankan bahwa perlindungan Hutan Kalimantan tidak hanya penting bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, tetapi juga bagi keseimbangan iklim dan keanekaragaman hayati global.